Minggu, 19 Oktober 2014

Review Jurnal Kimia

1. judul
                    Trimetoksi Calkon suatu Senyawa Antitumor dari Kulit Batang Tumbuhan
Cryptocarya costata (Lauraceae)
2. Penulis 
    Hanapi Usman1,2), Euis H. Hakim2), Sjamsul A. Achmad2), Tjodi Harlim1),
Muhammad N. Jalaluddin1), Yana M. Syah2), Lia D. Juliawati2),
Lukman Makmur2), dan Mariko Katajima3)
1)
3. Sumber 
                   Departemen Kimia Universitas Hasanuddin Makassar
          Kelompok Penelitian Kimia Organik Bahan Alam, Departemen Kimia, FMIPA ITB
          Center for Medicinal Resources, Faculty of Pharmaeutical,Chiba University,
          1-33Yayoi-cho,Inage-ku Chiba 263, Japan
          Diterima Juni 2005, disetujui untuk dipublikasi Agustus 2005


Abstrak
Senyawa calkon yang bersifat anti tumor telah diisolasi dari kulit batang Cryptocarya costata. Senyawa tersebut  diperoleh dari fraksi kloroform yang di fraksinasi dengan teknik berbagai kromatografi dari dilanjutkan  dengan rekristalisasi dalam n-heksan dan etilasetat. Struktur senyawa tersebut adalah 2’,4’-dihidroksi-3’,5’,6’trimetoksicalkon yang ditetapkan berdasarkan data fisika dan spektroskopi. Uji sitotoksik terhadap sel murin leukemia P-388 menunjukkan aktivitas yang positif dengan IC50 adalah 3,65 µg/mL. Kata kunci : calkon, sitotoksik, Cryptocarya costata
Abstract
An anti-tumor calcon has been isolated from Criptocarya costata stem bark. The compound was obtained from chloroform fraction fractioned by chromatography technique and recrystalized in n-hexane and ethyl acetate. The compound structure elucidated based on physical and spectroscopic data was 2’,4’-dihydroxy-3’,5’,6’-trimethoxy calcon. Cytotoxic assay using murine leukemia cell P388 showed positive activity with  IC50 value of 3.65 µg/mL.






                                                                                        


1.1.  Umum 

Penentuan       titik        leleh      dilakukan menggunakan ‘micro melting point apparatus’. Spektra UV dan IR diukur menggunakan Cary Varian 100 Conc. dan Perkin Elmer Spectrum One FT-IR spectrophotometers. Spektrum massa diukur dengan instrumen JEOL JMS AX-500 metoda FAB, dan 1H
(500       MHz)     dan        13C          (125       MHz)     NMR spektrofotometer                JEOL,     dengan                 menggunakan pelarut dan pelarut terdeterasi sebagai standar internal. Kromatografi cair vakum menggunakan Sigel 60 GF254 (Merck), Kromatografi kolom tekan menggunakan Si-gel G60 (230-400 mesh) (Merck), kromatografi radial menggunakan Si-gel 60 PF254 (Merck), dan analisis KLT menggunakan plat KLT  Kieslgel 60 F254 0,25 m (Merck).



1.2.  Bahan Tumbuhan  

Bagian tumbuhan yang digunakan adalah kulit batang C. costata, yang didapatkan dari hutan taman nasional Lore Lindu, Desa Tomodo, Kec. Kulawi Sulawesi Tengah. Identifikasi dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bogor dan Lab. Herbarium Biologi Universitas Tadulako Sulawesi Tengah voucher spesimen tersimpan di Herbarium Biologi Universitas Tadulako (E.377 L).

1.3.  Ekstraksi dan Isolasi  

Sebanyak 2,5 kg serbuk halus kulit batang C. costata dimaserasi dengan metanol, kemudian dipartisi dengan kloroform. Selanjutnya, fraksi kloroform dievaporasi sehingga didapatkan ekstrak kental berwarna coklat kehitaman sebanyak 140 g. Sebanyak 20 g ekstrak tersebut difraksinasi menggunakan kromatografi kolom vakum cair dengan eluen campuran antara n-heksan : etilasetat (9 : 1 s/d 6 : 4). Didapatkan enam  fraksi, yakni fraksi A, B, C, D, E dan F, fraksi D relatif dominan dengan berat 2,5 g. Sebanyak 400 mg fraksi D diolah dengan kromatografi radial dan kemudian diperoleh komponen utama berupa padatan berwarna kuning kecoklatan sebanyak 305 mg. Setelah dilakukan rekristalisasi berulang dengan menggunakan kombinasi pelarut n-heksan dan etilasetat, maka dihasilkan kristal berwarna kuning sebanyak 295 mg. Analisis KLT dengan tiga sistem pelarut menunjukkan masing-masing satu noda. 





2.    Pendahuluan   

 Cryptocarya adalah salah satu genus dari famili Lauraceae yang mempunyai sekitar 478 spesies1). Tumbuhan ini hidupnya tersebar luas di daerah tropika dan sub tropika dengan topologi berupa pohon tinggi. Sejak dahulu kelompok tumbuhan ini banyak digunakan sebagai bahan bangunan, bahan baku pulp, dan beberapa di antaranya kemudian digunakan sebagai obat tradisional2). Bahkan akhir-akhir ini beberapa penelitian telah mengungkapkan bahwa Cryptocarya mengandung banyak senyawa kimia berguna3,4,5). Beberapa metabolit sekunder telah diisolasi dari beberapa spesies Cryptocarya6,7,8). Telah dilaporkan bahwa sebagian besar  dari spesies Cryptocarya mengandung molekul  kimia anti tumor9,10)
 Cryptocarya costata diidentifikasi sebagai tumbuhan primitif dan langka, ditemukan di kawasan hutan Sulawesi yang dikenal sebagai kawasan Wollacea. Berdasarkan penelusuran literatur diketahui bahwa tumbuhan ini belum pernah ditemukan orang di kawasan lain, berarti kandungan kimianyapun belum pernah diselidiki. Namun demikian peta kemotaksonomi menunjukkan bahwa famili tumbuhan ini mengandung banyak senyawa kimia bermanfaat11,12). Di Sulawesi tumbuhan ini

2.1.  Umum 

Penentuan       titik        leleh      dilakukan menggunakan ‘micro melting point apparatus’. Spektra UV dan IR diukur menggunakan Cary Varian 100 Conc. dan Perkin Elmer Spectrum One FT-IR spectrophotometers. Spektrum massa diukur dengan instrumen JEOL JMS AX-500 metoda FAB, dan 1H
(500 MHz) dan   13C (125 MHz) NMR spektrofotometer (JEOL)dengan menggunakan pelarut dan pelarut terdeterasi sebagai standar internal. Kromatografi cair vakum menggunakan Sigel 60 GF254 (Merck), Kromatografi kolom tekan menggunakan Si-gel G60 (230-400 mesh) (Merck), kromatografi radial menggunakan Si-gel 60 PF254 (Merck), dan analisis KLT menggunakan plat KLT  Kieslgel 60 F254 0,25 m (Merck).

2.2.  Bahan Tumbuhan  

Bagian tumbuhan yang digunakan adalah kulit batang C. costata, yang didapatkan dari hutan taman nasional Lore Lindu, Desa Tomodo, Kec. Kulawi Sulawesi Tengah. Identifikasi dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bogor dan Lab. Herbarium Biologi Universitas Tadulako Sulawesi Tengah voucher spesimen tersimpan di Herbarium Biologi Universitas Tadulako (E.377 L).
4.  Kesimpulan  Chiba University Japan, yang telah membantu 
pengukuran senyawa dengan menggunakan NMR
 Berdasarkan interpretasi dari seluruh data dan MS.
yang didapatkan sebagimana diuraikan di atas, maka isolat dapat diidentifikasi sebagai senyawa 2’,4’-







Daftar Pustaka dihidroksi-3’,5’,6’-trimetoksi calkon. Senyawa
1. Kostermans, A.J.G.H., “Lauraceae”, Comm.
tersebut bersifat anti tumor dan pertama kalinya
Forest Res. Inst. Indonesia 57, 1-64 (1957). ditemukan dalam tumbuhan Cryptocarya.
100         JMS Vol. 10 No. 3, September  2005
                                             
2.       Heyne, K., “Tumbuhan Berguna”, Indonesia. Yayasan Sarana Wanajaya, Jakarta  ( 1987).
3.       Ahmad, S.A., “Empat Puluh Tahun dalam 
Kimia Organik  Bahan  Alam Tumbuh-tumbuhan Tropika Indonesia”, Rekoleksi dan Prospek. Bulletin of The Indonesian Society of Natural Products Chemistry 4:2, 5–54 (2004).
4.       Heyne, K., “Tumbuhan Berguna”, Indonesia. Yayasan Sarana Wanajaya, Jakarta  ( 1987).
5.       Ahmad, S.A., “Empat Puluh Tahun dalam 
Kimia Organik  Bahan  Alam Tumbuh-tumbuhan Tropika Indonesia”, Rekoleksi dan Prospek. Bulletin of The Indonesian Society of Natural Products Chemistry 4:2, 5–54 (2004).
6.       Hakim, E.H., Achmad, S.A., Buchari &   Pramutadi, S., “Ilmu Kimia Tumbuhan
Lauraceae Indonesia, XI; Alkaloid Aporfin dan Oksoaporfin dari Litsea Excelsa”, Proceedings ITB. 27:3  (1994).
7.       Dumontet, V., Hung, N. V., Adeline, M. T., Riche, C., Chiaroni, A., Seven, T. & Gueritte, F., “Cytotoxic Flavonoids and α-pyrones from”
Cryptocarya  obovata”, J. Nat. Prod. 67, 858862 (2004).
8.       Bick, I.R.C., Sevenet, T., Sinchai, W., Skelton, B., & White Allen H., “Alkaloids of    Cryptocarya longifolia”, Aust. J. Chem. 34:1, 477-481 (1981).
9.       Bishara, R. H., & Schiff, P. L., “The isolation of Some Sterols and Protocatheuic acid from Cryptocarya faveolata”, Lyodia 33:4, 477-481 (1970).
10.    Fu, X., Sevenet, T., Remy, F., Pais, M., Hadi, A.
H., & Zeng, L. M., “Flavanone and Chalcone derivatives from Cryptocarya kurzii”, J. Nat. Prod. 56:7, 1153-1163 (1993).
11.    Collins, D.J., Culvenor, C.C.J.,  Lamberton, J.A.,  & Loder, J.W., & Price, J.R., “Plants for Medicine”, CSIRO, Melborne, Australia (1990).
12.    Joseph, H., Dori, J.L., Sterling, J.T., & Jack R.C., “Cryptopleurine, cytotoxic agent from 
Boehmeria caudata (Urticaceae) and Cryptocarya laevigata (Lauraceae)”,
Phytochemistry17:8,  1448 (1978).  
13.    Gottlieb, O.R., “Chemosystematik of the Lauraceae”, Phytochemistry, 11, 1537-1570 (1972).
14.    Juliawaty, L.D., Achmad, S.A., Makmur, L., & Hakim, E.H., “Investigation of the Chemical 
Constituen  of  Cryptocarya  Laevigata Bl and  
Cryptocarya Nutans and its Relation to the Taxonomy of Lauracea”, Biotrop Spec. Publ. 23, 1-9 (1993).

15.    Alley, M.C., Scudiero, D.A., Monks, A., Hursey., Czerwinski, M.J., Fine, D.L., Abbott, B.J., Mayo, J.G., Shoemaker, R.H., & Boyd, M.R., “Feasibility of Drug Screening with Panels of Human Tumor Cell Lines Using a Microculture Tetazolium Assay”, Cancer Research 48, 589-601 (1988). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar